Coklat : Kudapan Manis Dunia terasa Pahit untuk Pariwisata Indonesia

7 Jun 2013

88dae7c96b4efadce3a040e806b56b1e_coklatCoklat yang kita kenal, adalah kudapan manis sejenis permen yang dihasilkan dari
biji Kakao. Sudah tak asing lagi, Coklat sering dijadikan sebagai oleh-oleh yang paling banyak digemari ketika kembali dari perjalanan wisata. Sebut saja beberapa
negara di Eropa seperti Belgia, Swiss, Belanda menjadikan Coklat tidak saja
sebagai konsumsi dalam begeri tetapi juga selalu ditawarkan kepada wisatawan
untuk dibawa pulang ke negaranya sebagai oleh-oleh.

Negara tetengga se Asean, contohnya Malaysia. Hampir setiap program City Tour di
Kualalumpur selalu disempatkan singgah di Toko Coklat. Tidak sedikit wisatawan
Indonesia yang memang gemar berbelanja memborong berbagai varian produk dari
biji Kakao ini.

Siapakan penghasil terbasar biji Cacao di dunia :

1. Gold Coast - 38 %
2. Ghana - 19 %
3. INDONESIA - 11 %
4. Nigeria - 5 %
5. Grasil - 5 %
6. Kamerun - 5 %
7. Equador - 5 %
8. MALAYSIA - 1 %
( Sumber Statistik : Wikipedia )

Kenyataan dan masalah besar telah terjadi. Apakah itu ? Kenapa negera-negera
Eropa yang nyata-nyata tak sebatangpun tumbuh pohon Kakao menjadi terkenal
penghasil olahan Kakao menjadi Coklat yang mendunia.
Negara tetangga yang hanya menyumbang 1 % Kakao dunia mampu mengemas olahan biji menjadi Coklat dan diborong habis oleh wisatawan asal Indonesia.

Tentu saja kenyataan pahit untuk Indonesia. Mampukah kita merubah persepsi penuh kesadaran, bahwa setiap Coklat yang kita beli di luar negeri mungkin saja bahan bakunya sangat berlimpah di pelosok Jawa, Sumatra, Sulawesi dan beberapa pulau lain di Indonesia.

Tantangan , mampukah insan pariwisata memperkenalkan Kakao ( Coklat ) sebagai
hasil bumi Indonesia ke 3 di dunia ? Siapa yang bodoh ? Malaysia penghasil 1%
mampu menjual coklat sebagai ikon pariwisata. Menggelikan lagi sebuah iklan es krim di TV swasta membanggakan berbahan baku coklat impor dari Beligia.


TAGS


-

Author

Follow Me