Museum Telekomunikasi kok Jual Soto Ayam

23 Apr 2013

99e7254c85d6db2279e25544e37af193_museum-telekomunikasi-1Saya hanya ingin berbagi pengalaman ketika mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ) Meskipun tidak masuk dalam daftar yang akan dikunjungi, akhirnya niatan saya tiba-tiba ingin masuk ke Museum Telekomunikasi. Kebetulan saat itu bus pariwisata yang membawa rombongan kami ke persis parkir di seberang museum ini. Atau dekat Tugu Lidah Api Pancasila. Setidaknya bisa liat-liat koleksi museum untuk nambah wawasan sambil ngadem di ruangan AC. Maklum, suhu udara cukup panas pada siang itu.
Di halaman depan museum ada patung Gajah Mada mengacungkan Keris ke atas seolah-olah sedang mangucapkan Sumpah Palapa yang terkenal itu. Di bawahnya ada Prasasti peresmian 20 April 1991 ditandatangani oleh President RI Soeharto. Terkesan pembangunan museum ini tidak main-main dan begitu penting.

Masuk ruangan depan, nampaknya tak sorang pun pengunjung di dalam. Hanya seorang Satpam yang ramah senyum menjaga loket dengan terpampang Tiket Masuk tertulis Rp. 2,000. Masuk ruangan koleksi museum lantai bawah suasana tidak begitu terang. Setelah diteliti, ternyata hanya sedikit lampu yang dinyalakan. Keleksi yang ada di sekeliling museum sangat banyak terutama alat-alat telepon tempo dulu. Agak sulit mengetahui pesawat telepon tersebut digunakan tahun berapa dan produksi mana karena tanpa informasi yang cukup untuk orang awam. . Saya hanya bisa memastikan pesawat telepon tersebut sudah tidak digunakan lagi pada jaman sekarang. Bahkan disitu ada miniatur pesawat ulang alik untuk meluncurkan Satelit. Sisi lain ada kabel bawah laut. Seumur hidup baru kali ini liat langsung bentuk kabel bawah laut yang sangat diperlukan untuk Indonesia sebagai negara kepulauan.

Dalam ruangan yang tidak cukup penerangan, tidak cukup keterangan, saya terkaget sekali ternyata dilantai yang cukup bersih banyak genangan air. Rupanya air tersebut dikarenakan atap museum bocor. Bahkan saya melihat ember plastik yang digunakan sebagai penadah tetesan air dari langit-langit. Sayangnya air belum dibersihkan bahkan pada saat jam buka museum.

Karena keadaan museum yang tidak cukup nyaman, akhirnya saya putuskan keluar tanpa rasa penasaran untuk melihat koleksi di lantai atas. Sambil menuju penjaga loket, saya kembali bertanya sedikit informasi tentang pengelolaan museum yang cukup menyedihkan. Menurut petugas Satpam, sebenarnya ada staff museum yang jaga tetapi hanya hari kerja saja. Sabtu dan Minggu libur sesuai jam kerja kantor. Cukup terkaget juga, mendengar jawabannya staff Museum libur pada hari Sabtu dan Minggu. Setahu saya museum hanya tutup pada hari Senin. Lanjutnya lagi Pak Satpam setelah saya tanya lembaga yang mengelola, menurutnya Museum ini di bawah tanggungjawab PT Telkom Jakarta Timur.

Melangkah menuju teras depan gedung sambil terheran-heran. Bukankah saat ini telekomunikasi canggih sudah menjadi kebutuhan penting bukan saja masyarakat perkotaan tapi juga masyarakat pedesaan. Tetapi kenapa PT Telkom tidak memanfaatkan museum sebagai alat mempromosikan diri. Bukankah saat ini begitu ketatnya pertarungan bisnis telekomunikasi. Bila perlu pengunjung tidak perlu membeli tiket masuk. Beberapa museum seperti Museum Geologi bandung, Asia Afrika Bandung, Bank Indonesia Jakarta pun seudah menggratiskan biaya masuk. Hebatnya lagi museum-museum tersebut menyediakan pemandu musium yang kompeten. Saya pikir PT Telkom memiliki banyak staff yang mampu menjadi pemandu museum ini. Atau dapat juga mengkaryakan para pensiunan PT Telkom sebagai pemandu. Pasti diantara mereka banyak yang kompeten menjadi pemandu museum.

Pos Jaga yang jadi kedai Soto Ayam

Pos Jaga yang jadi kedai Soto Ayam

Melangkah ke luar halaman parkir, mata kami tertuju ke pos jaga untuk Satpam di sebelah kiri. Rupannya keganjian memang ada di pos jaga ketika kami melihat tulisan ” JUAL SOTO AYAM”. Menyedihkan sekali. Pos jaga satpampun sudah beralih fungsi menjadi kedai Soto ayam. Padahal, lokasi Lokasi Museum Telekomunikasi sangat stragegis, persis depat pintu masuk utama, diseberangnya areal parkir bus, dan tidak jauh dari Keong Mas dan Stasiun Kereta gantung. Tapi kenapa museum ini begitu merana padahal Telkom menurut saya bukanlah unit BUMN yang selalu merugi seperti BUMN lainnya sebut saja contoh PLN, PELNI dan Kereta Api Indonesia.


TAGS Museum Telekomunikasi Telkom


-

Author

Follow Me