Musim liburan minggu lalu akhirnya terlaksana juga mengunjungi kampung Baduy yang terletak di kabupaten Lebak. Satu rombongan terdiri dari 20 orang mulai anak dari usia 4 tahun remana belia sampai usia 45an tahun lebur dalam suasana liburan yang berbeda dari liburan biasa. Mengapa biasa ? Tentu berbeda karena semua peserta ternyata tak satu pun pernah loburan ke Kampung Baduy kecuali pemandu wisatanya.
Bila ditanya apa oleh-oleh dari Kampung Baduy ? tentu cukup banyak mulai dari cindramata seperti kain tenun, asesoris gelang, kalung cincin buatan pengrajin Baduy, juga masih ada madu asli dari Lebah hutan dan Golok hasil pengrajin pandai besi asli Baduy yang memiliki ciri khas.
Tetapi mungkin melalui blog ini oleh-oleh yang cocok adalah berbagi cerita pengalaman keasrian alam dan keramahan teman-teman kami juga tuan rumah yaitu penduduk asli kampung Baduy. Melalui blog ini mungkian saya hanya bisa berbagi foto hasil liburan kemarin :

Nama yang sebenarnya adalah Kanekes, orang menyebut Baduy ( foto : Elisabeth Aryanti )

jalan kaki menyebrangi jembatan gantung ( photo : private collection )

Menenun kain adalah salah satu ketrampilan para gadis dan wanita Baduy ( private collection )

melewati bukit-bukit yang asri ( private collection )

melintasi perkampungan yang tersusun indah di lereng bukit ( private collection )

menginap di rumah penduduk yang tenang dan damai ( foto : Elisabth Aryanti )

dapat banyak teman dari Baduy yang ramah dan tulus membantu ( foto : Elisabeth Aryanti )

Arsad dari Cibeo Baduy Dalam, Helpful & Funky ( Foto : Elisabeth Aryanti )

Momen liburan yang berbeda dengan liburan lainnya ( foto : Amrizal )
Sebenarnya masih banyak panorama dan alam yang menarik, namun karena ada larangan memotret di Baduy Dalam, maka untuk menikmatinya adalah dengan datang langsung ke sana.
Untuk memenuhi permintaan beberapa peserta yang tidak sempat mengikuti Trip 26 Juni lalu, makan dibuka kesempatan trip berikutnya 31 Juli berangkat dari Jakarta.
Informasi Lebih Lanjut : Joko Langen P : 021- 79198661 HP 08129757411, 021-93865656 E-mail : joko@srikanditours.com , YM : jokolangen
Jika liburan sekolah akhir smester ini tidak memungkinkan bepergian keluar kota, untuk warga Jabodetabek masih memiliki kesempatan liburan murah meriah dan mendidik untuk anak-anak sekolah terutama untuk usia Taman Kanak-kanak sampai SMP.

Planetaium yang terletak di Jl. Cikini Raya No. 73 Jakarta Pusat ini tempatnya persis satu komplek dengan Taman Ismail Marzuki Jakarta. Wahana ini selesai dibangun oleh Pemda DKI Jakarta dan mulai dioperasikan tahun 1968 bagi para mengunjung dengan susasana hiburan yang santai dapat menambah pengetahuan tentang berbagai macam hal yang berhubungan dengan benda-benda di jagat raya antara lain Tata Surya, gugusan bintang dan segala macam aspeknya yang mempengaruhi kehidupan manusia di Bumi yang disimulasikan oleh sebuah kameracanggih buatan tahun 1996. Layarnya dibuat secara khusus setengah lingkaran bola dimana penonton berada didalamnya seolah-oleh sedang berada di pesawat luar angkasa sedang memandang dan menjelajah isi jagat raya. Studio ini dilegkapi dengan tata suara dan keterangan dalam bahasa Indonesia sehingga kita akan banyak mendapatkan informasi yang terkandung dalam film yang diputar. Sedangkan kursi yang tersedia adalah untuk 320 orang
Jadwal Pertunjukan :
Selasa - Jumat : setiap 16:30
Sabtu, Minggu dan Sabtu Libur Nasional : setiap 10:00, 11:30, 13:00, dan 14:30
Jumat Libur Nasional : Setiap : 10:00, 11:30, 13:00, 15:00, 16:30
Senin : TUTUP untuk pemeliharaan
Harga Tiket Masuk : Anak-anak Rp. 3,500 Dewasa Rp. 7,000
Alamat Planetarium Jakarta : Jl. Cikini Raya No. 73 , Taman Ismail Marzuki ( TIM ), Jakarta tel : 021 - 2305146
Cara mencapai Planetarium dengan kendaraan umum :
KERETA API LISTRIK ( KRL ) : dari arah Bogor , Jakarta Kota, Bekasi turun di Stasiun Kerata Api Cikini. dari Stasiun dapat menyambung dengan Metromini No. 17 arah Pasar Senen atau cukup naik Bajaj yang jaraknya sekitar 1 km, atau ojek
BUS : Metromini No. 17 Jurusan Pasar Senen - Manggarai, Kopaja No. 57 Jurusan Kampung Rambutan - Cililitan - Tanah Abang, Kopaja No. 20 Jurusan Pasar Senen - Lebakbulus ( rute kembali dariLebak Bulus menuju Pasar Senen tidak lewat Planetarium TIM ).
Di kawasan Planetarium TIM Jakarta ini terdapat warung makan, restauran, bioskop moderen, ruang pertujunjukan teater, dan ruang pameran seni. Bagi mereka yang dari luar kota, disinipun terdapat beberapa hotel berbintang 2 yang dapat dijangkau dengan jalan kaki. Harga kamar kisaran adalah Rp. 350,000 - 400,000 / per malam.

Foto : Widya Wardani
Mungkin pantai Klara masih asing bagi para pecinta wisata bahari di tanah air sekalipun. Untuk mencapai sini hanya ditempuh satu jam lebih dari Bandar Udara Branti Lampung . Sayang sekali pantai ini belum terlalu lama dipromosikan oleh Pemda Kabupaten Pesawaran yang baru dibentuk tiga tahun lalu sehingga wisatawan hanya mengenal wisata Atraksi Gajah di Pusat Konservasi Gajah di Taman Nasional Way Kambas.
Nama Klara diambil dari kependekan dari Kelapa Rapat. Dimana lokasi pantai ini sangat banyak pohon kelapa yang jaraknya berdekatan sehingga membentuk kanopi atau peneduh bibir pantai. Lokasinya pantai Klara sangat aman tepat di teluk Lampung menghadap Barat Daya. Meskipun jalan menuju kesana tidak terlalu lebar seperti pada umumnya jalan kelas kabupaten, tetapi kondisinya masih mulus dan tidak tampak lubang-lubang yang mengganggu kenyamanan pengendara. Bus wisata ukuran sedang masih sangat nyaman melalui jalan ini. Tetapi apabila berpapasan dengan kendaraan seukuran yang sama harus sedikit mengurangi kecepatan untuk menepi ke bahu jalan.

Foto : Private Collectoin
Suasana pantai berpasir putih yang landai ini sangat cocok untuk berwisata dari semua usia. Ombak di pantai ini dapat dikatakan sama sekali tidak ada karena berapa di teluk Lampung dan sangat jauh dari Samudra Indonesia. Ombak kecil yang mungkin lebih cocok dinamakan riak itu akan sangat memberikan rasa aman apabila membawa balita dan bermain di pantai.
Fasilitas pantai klara antara lain lapangan terbuka yang diteduhi pohon tarusan kelapa , gazebo untuk berteduh, kedai makanan dan minuman, MCK dan lahan parkir yang dapat menapung ratusan kendaraan beserta tenaga pengamanannya.

Foto : MJA Nashir
Untuk wisatawan yang ingin bermalam di sekitar pantai Klara tidak perlu cemas, meskipun di pantai Klara tidak terdapat penginapan, cottages maupun hotel, tepat di seberang pantai Klara terdapat pulau Pahawang yang sedang dikembangkan menjadi tujuan wisata bahari. Hanya dengan menyewa boat dengan jarak tempuh kurang dari 30 menit, kita sudah mencapai pulau Pahawang yang memiliki fasilitas bungalau dan rumah menduduk yang disewakan. Daya tarik wisatanya pun lebih beragam mulai dari kampung nelayan, hutan bakau, pantai berpasir putih sampai, kegiatan memancing, spot untuk snorkling dan diving. ( tulisan pulau Pahawang nantikan di tulisan kami berikutnya ).



Yogyakarta, atau lebih dikenal dengan nama panggilan Jogja memang sangat menarik untuk dikunjungi wisatawan dari penjuru Nusantara maupun Mancanegara. Kota yang merupakan pusat kerajaan Mataram sejak abad 15 ini banyak menawarkan daya tarik baik dari budaya Jawa, situs peninggalan berupa candi-candi, pengrajin Batik, pengrajin Perak dan masih banyak lagi daya tarik lainnya.
Untuk menunjungi Jogja selain cara mencapainya yang sangat mudah, juga terkenal dengan tempat liburan yang cukup murah. Untuk mencapai Jogja bisa menggunakan Kereta Api Ekonomi maupun kelas Eksekutif yang nyaman dan cepat. Melaui jalan darat banyak sekali transportasi bus regular dari arah Jakarta, Bandung, Surabaya maupun dari Bali. Sedangkan bagi yang memiliki biaya liburan yang lebih bisa menggunakan pesawat terbang.Hampir semua makapai penerbangan dalam negeri melayani penerbangan ke Jogja seperti Garuda, Mandala, Lion Air, Batavia
Di bawah ini adalah kawasan dimana terdapat banyak hotel bertarif relatif murah :
1. PRAWIROTAMAN , mulai tumbuh sebagai pusat penginapan atau hotel murah sejak tahun 70-an. Jarak dari puat kota sekitar 5 kilometer dan dapat ditempuh dengan angkutan becak atau andong ( bendi / delman ). Puluhan hotel kelas melati bertarif dibawah Rp. 100,000 - Rp. 300,000 banyak terdapat dikawasan ini. Beberapa hotel bahkan memiliki fasilitas kamar ber AC dan kolam renang. Digemari wisatawan karena hampir semua hotel menawarkan suasana keramahan tradisi Jawa yang kental. Tempat makan dan penjualan cendramata seperti Batik, perak, dan barang seni lainnyapun banyak dijual sekitar sini.
2. SOSROKUSUMAN : Menjadi pusat penginapan atau losmen yang dikenal murah dengan lokasi pusat kota bersebelahan dengan malioboro Mall. Berwisata seputar Malioboro, Pasar Beringharjo dan Keraton cukup ditempuh dengan jalan kaki.
3. SOSROWIJAYAN : Juga dikenal dengan kampung turis karena disini juga banyak kita jumpai wisatawan asing yang berlibur dengan cara backpaker menginap disini. Lokasinya memang hanya sekitar 200 meter dari stasiun Tugu Yogyakarta sehingga memudahkan wisatawan setelah tiba di Yogyakarta dengan kereta api cukup berjalan kaki menuju penginapan yang jumlahnya puluhan. Harga kamarnya pun relatif murah mulai dari Rp. 70,0ooan sampai Rp. 300,000-an tergantung fasilitas yang diberikan. KEutuhan makan dan minum wisatawan seputar kawasan ini sangat beragam dengan harga mulai kelas Angkringan ( kaki lima khas Jogja ) sampai kelas restauran gampang didapat.
4. TEMPAT LAIN : Selain 3 kawasan tersebut di atas, masih banyak kawasan hotel atau penginapan murah di Jogja seperti kawasan JOGJA TIMUR ARAH SOLO dan KAWASAN ARAH PARANGTRITIS.
Hari ini 27 April, Kota Depok sedang merayakan hari jadinya yang ke sebelas. Letak yang sangat strategis berbatasan dengan kota Jakarta dan Kabupaten Bogor, menempatkan Kota Depok sebagai daerah penting penyangga kegiatan politik & ekonomi nasional. Walaupun luasnya hanya 200 km persegi, namun Kota Depok memiliki aset yang nasional setidaknya salah satu perguruan tinggi negeri yaitu Universitas Indonesia berdiri di kota ini. Satu lagi universitas swasta Guna Dharma melengkapi Kota Depok sebagai berkumpulnya para pelajar dari berbagai penjuru Nusantara untuk menuntut ilmu di sini.
Asal kata Depok sampai sekarang masih terjadi beberapa pendapat antara lain nama Depok berasal dari tempat pertapaan atau semedi. Namun tidak ada situs sejarah yang mendukung bahwa di sini terdapat tempat bertapa atau bersemedi. Depok adalah salah satu wilayah yang dilintasi sungai Ciliwung dari Bogor menuju Jakarta yang menjadi salah satu sungai penting pada masa kerajaan Pajajaran yang dijadikan sarana transportasi utama menuju pelabuhan Sunda Kelapa. Asal nama lain Depok ada yang berpendapat diambil dari kepanjangan De Eerste Protestans Onderdaan Kerk yang kemudian disingkat DEPOK yang artinya Persatuan Kristen Protestan Pertama yang didirikan oleh Cornelis Chastelein pada abad 17. Pada saat itu wilayah ini tanah kosong yang dibeli Cornelis Chasttelein dari VOC diperuntukan pemukiman 12 budak yang dibebaskan dan diberi nama marga Belanda. Keduabelas keluarga itu kemudian mewarisi wilayah Depok dan mengembangkan perkebunan antara lain menanap pohon karet sebagai komoditi ekspor unggulan ke Eropa.
Kini Kota Depok selain berpungsi sebagai Kota Pendidikan, juga sebagai penghasil buah-buahan lolak penyangga kebutuhan Jakarta. Selain terkenal dengan Pepaya, Pisang, Jambu Batu juga terkenal buah Belimbing yang banyak ditanam petani di Depok. Belimbing asal Depok memiliki cirri khas dengan buah yang besar, manis dan warna kuning yang menarik selera sangat cocok tumbuh di Depok yang tanahnya masih subur.
Depok juga giat mengembangkan tempat wisata dengan cara melestarikan beberapa Danau kecil atau bahasa setempatnya “ setu “ menjadi kawasan pelestarian alam sekaligus sebagai tempat rekreasi warga setempat. Adapun tempat wisata jiarah Islami yang sudah terkenal ke pelosok Nusantara adalah Mesjid Kubah Mas.
Setelah hampir 40 tahun melayani jalur transportasi Jakarta – Bandung akhirnya Kereta Api Parahyangan resmi ditutup 27 April 2010. Satu keputusan bisnis yang harus diambil oleh PT KAI dengan alasan menyelamatkan bisnis transportasi Kereta Api dari kerugian yang lebih besar.
Kereta Api Parahyangan yang sudah beroperasi sejak tahun 1971 pernah menjadi salah satu moda transportasi umum paling bergengsi Jakarta – Bandung setelah pesawat terbang sampai sekitar tahun 1988, Kereta Parahyangan adalah kereta yang memiliki serba kelebihan antara lain mampu mengantarkan penumpang dari pusat kota Bandung ke Stasiun Gambir di pusat kota Jakarta . Kelebihan yang tidak dimiliki oleh transportasi udara dimana penumpang harus meluangkan waktu menuju ke bandara Halim JKT atau Husen Sastra Negera. Bahkan kecepatan waktu tempuh dengan pesawaat yang saat itu menggunakan Fokker 27 kemudian digantikan CN 235 berdaya angkut dibawah 40 penumpang jelas sekali tidak dapat menyaingi kemampuan Kereta Api Parahyangan yang mampu membawa lima ratusan orang sekaligus. Cara lain penghubung dua kota ini adalah dengan kendaraan pribadi maupun angkutan bus regular sangat tidak efisien waktu. Karena sampai 1988 perjalanan yang masih sangat melelahkan harus melalui jalur Cianjur – Puncak – Bogor , atau melalui Paralarang – Cikalong Wetan – Purwakarta – Karawang – Bekasi. Terminal bus saat itu Cicaheum di Bandung, dan Cililitan ( sekarang dijadikan Mall PGC ) di Jakarta. Belum tersedianya jalan tol sama sekali menempatkan Kereta Api Parahyangan banyak diminati penumpang dan menjadi lebah madu sumber keuangan PJKA saat itu.
Karena tuntutan mobilitas tinggi pergerakan orang dan barang dari Bandung dan Jakarta atau sebaliknya, maka pemerintah membuka jalan tol pertama di Indonesia yaitu Jagorawi yang menghubungkan Bogor dan Jakarta tahun 1978. Tetapi tol Jagorawi tidak terlalu banyak membantu tuntutan pengguna jasa transportasi bandung – Jakarta. Sepuluh tahun kemudian, tahun 1988 diresmikan jalan tol Cikampek sepanjang 72 kilometer sehingga mempercepat jarak tempuh Jakarta Bandung. Akan tetapi, meskipun jarak jalan darat makin singkat melalui toll Cikampek, terminal Cililitan yang dianggap sudah tidak layak dipindahkan ke Kampung Rambutan jauh di Tenggara pusat kota Jakarta. Keadaan ini masih belum memanjakan penumpang semudah naik Kereta Api Parahyangan.
Kerata Api Parahyangan sampai tahun 1995 mendominasi transportasi masal Jakarta – Bandung meskipun nyaris tanpa perbaikan rangkaian kereta api yang berarti. Penumpang masih cukup puas dengan dua pilihan kelas Executive dan Bisnis. Bahkan makin lama pelayanan makin berkurang baik dari kualitas gerbong yang antara lain makin tidak terawat baik tempat duduknya, maupun toiletnya. Sejak perubahan management dari PJKA menjadi Perumka pada tahun 1991, baru pada tahun 1995 mampu mengembangkan Kereta Api Argo Gede yang lebih mewah dan moderen dengan jarak tempuh lebih cepat 30 menit dari Parahyangan. Kehadiran Argo Gede mendapat sambutan yang baik, namun ternyata sebagian penumpanganya ternyata adalah penumpang Kereta Api Parahyangan itu sendiri.
Tahun 2005 adalah babak baru moda transportasi antara Bandung dan Jakarta karena saat itu dibukanya jalur tol Cipularang yang menghubungkan langsung antara dua kota besar ini yang sekaligus memperpendek jarah tempuh bila menggunakan jalan darat. Saat itu dibuka berbarengan dengan ulang tahun ke 50 Konfrensi Asia Afrika yang dihadiri banyak kepala negara menggunakan jalan tol ini meskipun belum selesai sepenuhnya. Dibukanya tol Cipularang adalah ujian berat Management PT Kerata Api Indonesia yang baru berubah dari Perumka ke PT KAI tahun 1999. Tidak jalur kereta yang terkena imbas, tetapi juga beberapa restaurant di jalur Sadang Purwakarta serta popularitas pariwisata puncak menjadi merosot. Arus pergerakan orang semakin banyak melalui jalan darat tol Cipularang daripada menggunakan Kereta Api. Tempat liburan di Bandung semakain ramai dan sedikit banyak mengurangi minat orang berlibur ke Puncak.
Tantangan PT Kerata Api seharusnya sangat bisa diantisipasi seandainya tidak terlena dan puas dengan adanya Kereta Api Parhyangan. Jelas sekali bahwa kemudahan dan kecepatan waktu tempuh yang menjadi tolok ukur setiap orang bepergian terlalu lama diabaikan. Salah satunya adalah, lambatnya PT KAI dalam hal ini stake holder Departemen Perhubungan membangun Double Track Bandung Jakarta sehingga tidak akan terjadi lagi penghentian kereta ditengah perjalanan karena harus bergantian jalur dengan kereta dari arah lawan. Bepergian dengan kereta api antara Bandung – Jakarta tetap menjadi hal yang menyenagkan karena selain menyuguhkan panorama indah alam parahyangan , juga kenyamanan dan keamanan sepanjang perjalanan yang belum tertandingi oleh perjalanan melaui jalur darat. Kini Kereta Api Argo Gede akan diberikan kesempatan untuk berkembang mempertahankan jalur klasik Jakarta – Bandung. Namun, nasibnya akan sama merana seperti Parahyangan apabila tidak segera diselesaikannya double track untuk menjawab tuntutan pengguna jasa transportasi. ( http://berwisata.blogdetik.com )
Perkara pajak minggu-minggu ini menjadi “hot topic” baik di media televisi, surat kabar, majalah, obrolan warung kopi bahkan sampai ke para mahasiswa yang rajin mengadakan demonstrasi. Berita ini muncul ke permukaan sejak diungkap kasus pegawai Ditjen Pajak yang masih relative muda namun memiliki kekayaan yang melimpah dan jumlahnya sangat tidak seimbang sekalipun uang gaji sepanjang 5 tahun karirnya dikumpulkan.
Kejadian ini sangat memukul program pemerintah yang baru saja meningkatankan kampanye kesadaran membayar pajak mulai dari kemudahan mendapatkan NPWP ( Nomor Pokok Wajib Pajak ) bagi setiap Wajib Pajak baik perorangan maupun badan. Iklan sadar pajak dengan tag line “ Orang Bijak Taat Pajak “ dan “ Gini Hari belum Bayar Pajak ? Apa Kata Dunia ? “ yang sudah akrab ditelinga Wajib Pajak kini seolah tidak bermakna. Gerakan menolak membayar pajak pun mulai muncul atas kekecewaan masyarakat dengan terindikasi banyaknya “ Markur” atau Makelar Kasus ditubuh penyelenggara pemerintahan yang seharusnya mengumpulkan, merencanakan, melaksanakan, mengawasi setiap Rupiah yang disetorkan ke kantor Pajak
Membangun negeri dengan Pajak memang tidak dapat dihindari lagi, karena dari Pajaklah sebagian sumber pendapatan negera selain dari export dan pariwisata. Dan demi tercukupinya APBN setahun penuh untuk melaksanakan pembangunan, pendidikan, kesehatan, pertahanan, cicilan utang negara sampai untuk membayar gaji untuk para petugas dan para PNS, anggota TNI dan POLRI. Namun demikian, belum semua lapisan masyarakat menikpati hasil pembangunan, pendidikan yang berkualitas maupun jaminan kesehatan yang terjangkau. Sangat disayangkan, masih banyak PNS / TNI dan POLRI yang mencerminkan dirinya sebagai penguasa, bukannya melayani masyarakat yang taat membayar pajak.
Slogan yang berbunyi di kantor-kantor instansi pemerintah seperti Mengayomi, Melayani, bebas pungli dan kata-kata manis lainnya itu hampir tidak berarti apa-apa dan hanya penghias halaman gedung perkantoran atau pinggiran jalan. Padahal sepanjang tahun, setiap bulan, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik selalu dibebani pajak. Lampu listrik yang menyala sepanjang malam, BBM yang kita beli untuk kendaraan kita, panggilan telepon maupun SMS yang kita kirim, dan setiap Rupiah yang kita belanjakan di warung, mini market, restaurant semua tidak luput dari beban Pajak didalamnya.
Dapat dipastikan setiap kedipan mata kita dipungut pajak, dan saat kedip yang sama pula ratusan juta uang pajak masuk ke pundit-pundi negara.

Tradisi Pawai Obor ( Photo by : Romy R. Mahmud )
” Warga kota Bandung saat itu telah membuktikan cintanya terhadap kemerdekaan yang belum genap satu tahun. Sebuah peristiwa heroisme membakar kota sebagai bukti cinta kemerdekaan ”
Siang ini, seorang teman tiba-tiba mengingatkan, bahwa hari ini peringatan Bantung Lautan Api ya ? Benak saya langsung kembali ke tahun 1985. Saat itu masih sekolah di SMA 13 Bandung. 25 tahun yang lalu, diizinkan orang tua ikut pertama kalinya acara Lomba Gerak Jalan Bandung Lautan Api atau yang lebih dikenal BLA. Maklum waktu masih SMP tidak diberi izin ikut bergabung karena dianggap masih kecil. Orang tua sangat khawatir untuk seusia SMP harus mengikuti lomba Gerak Jalan Bandung Lautan Api di malam hari menempuh perjalanan kurang-lebih 50 km ke Bandung Selatan.
Masyarakat kota Bandung memang sangat mengenang peristiwa BLA dengan segala heroismenya. Tepat 64 tahun yang lalu, warga kota Bandung dengan terpaksa harus mengungsi ke Bandung Selatan karena terdesak oleh tentara Sekutu yang didalamnya ada serdadu NICA yang ingin merebut kembali Indonesia. Hijrah atau mengungsi sampai sekarang masih dianggap sebagai pengorbanan terbesar warga se isi kota karena melibatkan hampir 200,000 orang laki-laki, perempuan, tua dan muda mengosongkan dan membakar kota Bandung khususnya sebelah selatan jalur kereta api. Strategi perang yang kurang seimbang melawan tentara Sekutu dan NICA ini menjadi salah satu cara jitu saat itu. Gedung-gedung dan rumah penduduk dibakar pada malam hari oleh para pejuang saat para pengungsi sudah sampai di lereng-lereng pengunungan Selatan Bandung. Kota Bandung yang mereka cintai merah membara terbakar. Keputusan yang tepat untuk melumpuhkan kota tanpa banyak menelan korban jiwa, meskipun harus membakar rumah dan harta benda yang mereka miliki. Para pejuang sangat leluasa berjuang gerilya dipusat kota yang kosong setiap malam.
Sosok pemuda Bandung, Mohamad Toha menjadi penyemangat pengorbanan dengan meledakan diri di gudang mesiu milik Belanda di Tegalega. Tokoh kota Bandung termasuk para pejuang, Bupati Bandung saat itu RTE Suriaputra yang menjabat 1945 – 1947, dan Abdul Haris Nasution sebagai Komandan Militer Priangan saat itu masih berpangkat Kolonel ( Jendral AH Nasution ) menjadi beberapa penggagas peristiwa heroisme.
Api menyala membakar kota Bandung demi harkat martabat yang harus dipertahankan. Warga kota Bandung saat itu telah membuktikan cintanya terhadap kemerdekaan yang belum genap satu tahun. Sebuah peristiwa yang penuh heoisme sebagai pembuktian cinta kemerdekaan yang sangat besar hingga dikemudian hari tercipta lagu penyemangat “ HALO-HALO BANDUNG “. Sayang sekali, catatan sejarah masih simpang siur siapakah sebenarnya pencipta lagu tersebut. Sama dengan dualisme pendapat para sejarawan, apakah Bandung dibakar tanggal 23 Maret Malam, atau 24 Maret Malam 1946 ?
Iseng-iseng pulang kerja, daripada pulang ke rumah buru-buru dan berjejal di kereta KRL ke Bogor akhirnya memutuskan nongkrong dulu di pusat kota. Telepon sana-sini cari kawan, akhirnya menyepakati tempat yang cocok untuk nongkrong murah meriah adalah di Taman Ismail Marzuki atau orang Jakarta lebih terbiasa menyebutnya TIM. Kebetulan sudah hampir 2 bulan ini tidak ke TIM. Enaknya nongkrong di TIM antara lain adalah banyaknya para pengunjungnya relatif merata dari berbagai status social mulai dari mahasiswa, karyawan, budayawan, selebriti kadang ada pengusaha. Hampir tidak ada suasana adu gengsi dan jaim antara pengunjung disini. Sambil menunggu, kita bisa relak duduk di selasar gedung atau bangku taman. Untuk yang lapar bisa mengisi perut di café-café yang harganya sangat terjangkau.